Bab 41 Ratapan Duka di Padang Luas
“Delapan puluh ribu orang saja ingin menghalangi sembilan belas ribu prajurit tajam Dinasti Qin? Betapa lucunya!”
Di atas dataran luas, pasukan Qi berbaris rapi dalam kesiapsiagaan. Angin sepoi-sepoi menyapu perlahan, membelai wajah para prajurit Qi, sedikit meredakan ketegangan yang menyesakkan dada.
Namun, meski angin berhembus, panji-panji Qi tetap terkulai lesu, tak mampu berkibar. Angin ini terlalu lemah, tak sanggup mengibarkan bendera Qi.
Tiba-tiba, dari kejauhan muncul cahaya api yang menyilaukan, menjulang hingga ke langit, semakin lama semakin dekat. Di balik cahaya itu, ribuan prajurit Qin mendekat dalam barisan teratur.
Aura mematikan yang tajam itu menyeruak bersama kedatangan pasukan Qin, menimbulkan angin kencang yang mendera bendera Qi hingga akhirnya berkibar, dan di antara kerumunan pasukan, timbul kegaduhan.
Pertempuran belum dimulai, tetapi hanya dengan kehadiran dan tekanan mereka di medan laga, sudah mampu mengguncang hati siapa pun. Julukan pasukan harimau dan serigala memang pantas disandang.
“Jangan panik! Jangan panik! Semakin kacau kalian, semakin cepat kalian mati! Jika bertarung mati-matian, masih ada seberkas harapan. Semakin kalian takut, pasukan Qin akan semakin kuat!”
Jenderal Xing buru-buru berteriak menenangkan prajurit Qi, berusaha menstabilkan semangat para pasukan.
Menatap pasukan Qin yang mendekat bagaikan banjir bandang, dengan panji-panji mereka yang berkibar garang, ia hanya bisa tersenyum pahit. Mana mungkin jumlah mereka hanya lima belas ribu? Ini pasti mendekati dua puluh ribu.
Musuh dua kali lipat, pertempuran ini sungguh sulit! Tuan muda, cepatlah, kami takkan mampu bertahan lama.
Barisan pasukan Qin perlahan membuka jalan, dua penunggang kuda keluar ke depan—Tuan Fusu dan Jenderal Wang Ben.
Fusu melangkah maju dan bertanya dengan lantang, “Siapakah jenderal pemimpin pasukan Qi di sini? Maukah keluar dan bertemu denganku?”
“Bertemu untuk apa? Kalau mau bertarung, bertarunglah! Jangan harap pasukanku akan memberi jalan padamu! Fusu, aku hormati kau sebagai seorang ksatria, lebih baik dengarkan nasihatku: bawa pasukanmu pulang ke negeri Qin! Hahaha!”
Mendengar ucapan itu, Fusu tak mampu menahan tawa. Sungguh, malah menasihati aku pula.
“Sombong sekali. Tapi aku tetap ingin bertanya, kalian datang hanya untuk mati? Dengan jumlah seperti ini, bisakah kalian menghalangi pasukan Qin? Bukankah hidup itu lebih baik?”
“Hati-hati, Tuan Muda!” Wang Ben menghalau sebuah anak panah yang melesat diam-diam.
“Tuan Muda, sampai sejauh ini, tidak bertarung pun tidak mungkin lagi. Mereka yang sudah di ujung jalan, mana bisa dinasihati kembali?”
“Tabuh genderang! Bersiap untuk bertempur!”
“Bersiap hadapi musuh!”
“Angin!”
“Angin!”
“Angin kencang!”
“Prajurit panah dan ketapel, siap! Tembakkan satu gelombang serempak!”
“Wusss~” Hujan anak panah memenuhi langit, meluncur deras ke arah barisan Qi.
“Balas! Tembak!” Pasukan Qi juga membalas hujan panah. Dalam sekejap, gelombang panah beradu di udara, namun sayang, panah Qi hanya mampu mencapai barisan terdepan Qin, sementara panah Qin menjangkau seluruh barisan Qi.
“Lindungi Tuan Muda! Angkat tameng!” Beberapa prajurit dengan tameng segera melindungi Fusu di depan.
Hujan panah menghantam, jeritan memilukan terdengar bergema di antara dua kubu. Setiap anak panah yang melesat, merenggut satu nyawa yang masih hangat.
“Tuan Muda, mundur dulu. Nanti saat pasukan Qi menyerbu, tempat ini tak aman. Mundurlah ke barisan panah, itu lebih aman! Prajurit, kawal Tuan Muda mundur ke belakang!”
Dua pasukan kini berhadapan. Formasi pasukan Qin di medan laga berbeda dari saat pengepungan kota. Di depan, prajurit tameng, di belakang mereka prajurit tombak dan gada panjang, lalu barisan pendekar bersenjata pedang, dan paling belakang adalah barisan panah dan ketapel, sementara kavaleri berjaga di kedua sayap untuk menyerang dan mengacau.
Di bawah hujan panah, Qi menderita kerugian besar, sementara panah mereka tak mampu menjangkau jauh. Kekurangan senjata jarak jauh sangat tampak, perbedaannya terlalu besar.
“Tak bisa begini terus, kalau diteruskan pasukan kita akan habis oleh panah Qin. Perintahkan, infanteri serang maju, kavaleri tekan ke depan, cerai-beraikan barisan Qin, agar panah mereka tak bisa berfungsi!” Xing Ruwu menatap serius ke arah pertempuran.
“Jenderal, jumlah kita sudah kalah banyak, jika menyerang dan meninggalkan formasi, bukankah kita membuang satu-satunya keunggulan kita? Kita takkan sanggup bertahan lama!” Wakil jenderal menasihati.
“Omong kosong! Keunggulan formasi apa? Panah Qin bisa menghabisi kita pelan-pelan. Satu-satunya jalan, serang! Hadapi pasukan Qin dalam pertempuran jarak dekat, buat panah mereka tak berguna!”
“Serang! Infanteri maju, kavaleri tekan ke depan! Serbu!”
“Serbu!” Teriakan komando menyerang menggema, delapan puluh ribu pasukan Qi mengalir bagaikan ombak, suara pekik membahana ke langit.
“Jenderal Qi ini tak bodoh. Kalau saja pasukan Qi berdiri kaku di sana, mereka akan jadi sasaran empuk para pemanah kita. Memilih menyerang adalah langkah tepat. Sayang, lawan mereka adalah kita!”
“Bawa ketapel tempur ke depan, arahkan semuanya mendatar!” Wang Ben melambaikan tangan, perwira bendera segera mengibarkan bendera perang, mengirimkan perintah.
Prajurit Qin membuka jalan, empat orang per kelompok, perlahan-lahan menggotong ketapel besar ke garis depan, menempatkannya di depan barisan. Dua orang memutar tuas untuk mengencangkan tali panah, dua lainnya memasang anak panah raksasa sepanjang satu meter lebih, lalu penembak menekan tuas dengan keras.
“Syut!”
Anak panah raksasa melesat menembus udara, “Cras!” suara senjata tajam menembus tubuh berseragam baja. Pasukan Qi tertembus bagai sate, satu anak panah menembus beberapa tubuh sekaligus.
Pemandangan ini terjadi di sepanjang garis depan Qin. Ketapel tempur berderu, panah raksasa beterbangan, darah muncrat, jeritan kematian membelah langit.
Prajurit Qi yang berada di barisan depan menggigil, meraba perutnya yang berlubang besar, darah mengucur deras.
Serangan Qi terus menggempur, ketapel Qin tetap melesatkan panah, hanya dalam hitungan detik, ratusan orang tewas oleh senjata pembunuh massal ini. Tanah berubah merah, membakar semangat para prajurit kedua belah pihak.
Tak ada kata mundur, hanya maju. Yang menemani kini hanyalah tombak dan pedang di tangan. Hanya dengan membunuh musuh di depan, ada peluang untuk tetap hidup.
Ketika kedua pasukan hanya berjarak lima puluh langkah, Wang Ben perlahan mencabut pedangnya.
“Demi Qin, serang!”
“Serang!”
“Kavaleri, kerahkan kereta perang, cerai-beraikan mereka, serbu!”
Selain pasukan panah, lima belas ribu lebih infanteri dan kavaleri Qin melancarkan serangan dahsyat!
Duel jarak dekat mulai, tombak-tombak menikam, “Crak crak”, tombak menembus tubuh, prajurit dari kedua belah pihak bertarung sampai mati.
Seorang prajurit Qin tertusuk tombak Qi, darah mengucur dari mulut dan hidung, namun ia seolah tak merasakan sakit, melangkah maju dengan tombak menancap di tubuhnya. Prajurit Qi yang menusuknya sudah ketakutan setengah mati, dalam sekejap, prajurit Qin itu mengayunkan pedang dan menebas kepala lawannya.
“Kalau pun mati, aku harus bawa satu bersamaku!” Tubuhnya berlubang, napas tersengal, tangan yang berlumuran darah mencengkeram erat kepala musuh. Itu harapan keluarganya, itu adalah jasa dalam perang. Demi jasa, prajurit Qin rela mengorbankan segalanya.
Pertempuran kavaleri berlangsung dalam sekejap. Dengan pedang dan tombak, dua pasukan kavaleri saling serang, menebas, menusuk, tak terhitung prajurit jatuh dari kuda dan tewas.
Kavaleri yang berhasil menembus formasi lawan kini telah bertukar tempat, kuda mereka berhenti perlahan, tangan yang memegang pedang gemetar, saudara seperjuangan di sampingnya telah gugur, panggilan akrab tak lagi mendapat jawaban.
Mereka menatap pedang di tangan, mata mereka menjadi tegas, penuh kegilaan, asap mesiu memenuhi udara, darah mengalir deras, potongan tubuh berserakan, segala yang tersisa membakar semangat mereka.
Kini, tak ada lagi keraguan di tangan yang memegang pedang. Diam-diam mereka memutar kuda, menyusun barisan, dan siap memulai babak pertarungan baru.