Bab Tiga Puluh Enam: Tebing Langit Sepi
Tiga-Ekor Lebah, salah satu makhluk undead tingkat viscount, memiliki tiga sengat beracun di bagian ekornya dan dapat menembakkan cahaya berbentuk jarum yang dikenal sebagai Cahaya Abadi. Sifat mereka sangat ganas; siapa pun yang memasuki wilayahnya akan menghadapi pertarungan hidup dan mati tanpa akhir.
Alasan Bai Cangdong teringat pada Tiga-Ekor Lebah adalah karena meskipun makhluk ini sekelas viscount, tubuh aslinya sangat rapuh. Ia hanya mengandalkan Cahaya Abadi dan kemampuan terbang yang sangat cepat. Jika mampu menghindari serangan Cahaya Abadi dan membuatnya kehabisan energi tersebut, membunuhnya bukanlah hal yang sulit.
Bai Cangdong sendiri belum pernah melihat Tiga-Ekor Lebah secara langsung, sehingga ia tidak mengetahui kecepatan terbang aslinya ataupun kecepatan tembakannya. Karena itu, ia juga tidak yakin apakah dirinya mampu bertahan hingga makhluk itu menghabiskan seluruh Cahaya Abadinya, tapi setidaknya itu memberinya secercah harapan.
"Kesempatan hanya datang sekali. Melawan undead tingkat viscount, kegagalan berarti kematian. Aku tidak boleh bertindak gegabah. Lebih baik aku melatih 'Sayap Asura' dan 'Delapan Langkah Langit' hingga ke puncak, lalu baru menyelidiki kekuatan sejati Tiga-Ekor Lebah."
Dalam setengah bulan berikutnya, Bai Cangdong terus beristirahat dan memulihkan diri. Tugas di Paviliun Guru pun telah selesai, dan giliran dijaga oleh prajurit lain. Ia tidak tahu apa yang direncanakan Liu Shiquan, sebab tak ada tugas baru yang diberikan padanya.
Selain Rogge, Ma Fei dan yang lainnya sempat menjenguknya, bahkan membawa lima butir Mutiara Mata Hijau sebagai taruhan yang mereka kalah dalam perjudian.
Bai Cangdong sendiri tidak tahu harus apa dengan begitu banyak Mutiara Mata Hijau. Satu butir saja sudah cukup untuk melihat dalam gelap, dan menambah jumlahnya tidak akan memperkuat efeknya. Namun, karena itu adalah perlengkapan tingkat baron, ia bisa menjual atau menukarnya dengan perlengkapan lain di kemudian hari.
"Kasihan sekali kau, sayangku. Kudengar kau terluka, hatiku sungguh tersayat," ujar Nyonya Honglian yang sudah lama tak muncul, menggoyang-goyangkan pinggulnya yang montok saat masuk ke rumah Bai Cangdong.
"Terima kasih atas perhatian Nyonya. Aku sudah pulih," jawab Bai Cangdong, merasa bulu kuduknya berdiri.
"Apakah kau mengeluh aku datang terlambat?" Nyonya Honglian menatap Bai Cangdong dengan penuh keluhan, sambil memainkan saputangan di tangannya.
Bai Cangdong tak bisa berbuat banyak. "Jika Nyonya ada urusan, lebih baik langsung saja katakan."
"Apa kau pikir aku datang hanya ketika ada urusan saja? Tak bolehkah aku sekadar menjenguk dan peduli padamu?" Nyonya Honglian cemberut.
"Nyonya, aku baru saja sembuh. Kasihanilah aku, tolong langsung saja katakan ada urusan apa," pinta Bai Cangdong dengan wajah memelas.
Menghadapi Nyonya Honglian memang tak ada cara yang benar-benar ampuh. Melawan pun tak bisa, berdebat pun kalah. Ia hanya bisa berharap wanita itu cepat pergi.
"Jangan berpura-pura kasihan. Kau itu pahlawan besar yang membantai hampir empat ribu Ashura Bermata Hijau dalam satu hari. Luka kecil seperti itu tak akan kau pikirkan, bukan?" Nyonya Honglian menatap Bai Cangdong tajam.
Bai Cangdong hanya bisa tersenyum getir. "Nyonya memang selalu punya informasi yang akurat. Hal kecil begini pun tidak luput dari telinga anda."
"Itu bukan hal kecil. Bahkan aku sendiri tak yakin bisa membunuh empat ribu Ashura Bermata Hijau dalam sehari, tapi kau berhasil. Sekarang kau jadi terkenal. Bahkan kakakku ingin menemuimu langsung. Kau pasti bangga, ya?" Nyonya Honglian meliriknya.
"Mengapa Tuan Count ingin menemuiku?" Hati Bai Cangdong berdebar.
"Tentu saja karena dia menghargai bakatmu dan ingin kau bergabung ke pasukan ksatria kediaman Count. Lebih tepatnya, menjadi ksatria pribadi Xiangfei," jawab Nyonya Honglian dengan nada sedikit mengejek.
Wajah Bai Cangdong berubah drastis. "Nyonya, Anda tahu aku tidak ingin menjadi ksatria."
"Aku tahu, tapi apa gunanya? Kali ini yang ingin kau jadi ksatria adalah kakakku. Kalau kau berani, ulangi saja kata-kata yang pernah kau sampaikan padaku di hadapan kakakku, dan lihat apakah dia akan semudah aku memaafkanmu."
Bai Cangdong merasa getir, lalu menarik tangan Nyonya Honglian. "Nyonya, tolonglah aku. Aku sungguh tak ingin menjadi ksatria. Anda pasti punya cara, kan?"
"Bukan tak ada caranya, tapi kenapa aku harus membantumu?" Nyonya Honglian menatap Bai Cangdong, separuh tersenyum.
"Aku janji akan membantu segala urusan Nyonya dengan sepenuh hati, dan secepatnya menipu barang itu dari Xiangfei untuk diberikan pada Nyonya," janji Bai Cangdong buru-buru.
"Bagus sekali! Kali ini ada kesempatan besar untuk membuat Xiangfei semakin percaya padamu. Tapi ada sedikit bahaya, berani tidak melakukannya?" Nyonya Honglian mengelus pipi Bai Cangdong.
Bai Cangdong sudah menduga, pasti ada urusan yang ingin diserahkan padanya.
"Aku siap membantu Nyonya."
"Xiangfei sedang menjalani latihan keras dan bertarung melawan undead sungguhan. Beberapa hari lalu, pipinya terluka dan meninggalkan bekas. Di kediaman Count pun tidak ada obat penghilang luka. Satu-satunya cara adalah mencari Rumput Tiga Bintang yang tumbuh di atas Tebing Langit Sunyi. Berani tidak kau mendaki dan mengambil satu tangkai untuknya?"
Mendengar penjelasan itu, wajah Bai Cangdong langsung berubah. Ia pernah mendengar tentang Tebing Langit Sunyi yang dipenuhi bunga dan tanaman langka, tapi sangat berbahaya. Banyak viscount pun tewas di sana, apalagi manusia tingkat baron.
"Nyonya, bukankah obat untuk menghilangkan bekas luka tidak sulit dicari? Kalau di Kota Daolun tidak ada, kita bisa cari di kota lain, bukan?"
"Itu tidak sama. Bayangkan, seorang wanita kehilangan kecantikan yang paling ia jaga, tapi tidak ada obat di sisinya. Lalu, pria yang ia sukai muncul membawa tanaman penyembuh luka, dan wanita itu tahu pria itu mempertaruhkan nyawa untuk mendapatkannya. Menurutmu, apa yang akan terjadi?"
"Dia tidak akan langsung menikah denganku, kan?" tanya Bai Cangdong masam.
"Ngimpi kamu," Nyonya Honglian meliriknya. "Aku tidak tahu wanita lain akan bagaimana, tapi Xiangfei pasti akan setia pada orang itu, dan tidak akan memikirkan pria lain."
"Kalau Nyonya sendiri bagaimana?" Bai Cangdong penasaran.
"Kalau aku? Tentu saja aku akan dengan senang hati menerimanya, lalu membiarkan pria itu menunggu panggilanku. Saat aku mood, baru aku manjakan dia," sahut Nyonya Honglian sambil tertawa. "Kau mau berikan itu padaku?"
Bai Cangdong buru-buru menggeleng. "Nyonya, harus ke Tebing Langit Sunyi? Tak ada cara lain? Misalnya, aku gunakan waktu hidupku untuk membeli Rumput Tiga Bintang dari orang lain?"
"Rumput Tiga Bintang sangat langka, mana ada yang jual? Kita juga tak bisa menunggu terlalu lama. Kakakku sedang tak ada di kota. Begitu dia pulang, bekas luka Xiangfei pasti langsung diobati. Jadi, rencana kita harus selesai sebelum kakakku kembali."
"Count tidak ada di Kota Daolun?" Bai Cangdong menatap Nyonya Honglian tajam, menekankan setiap kata.
Nyonya Honglian sedikit terkejut, sadar dirinya keceplosan, lalu menangkup wajah Bai Cangdong dan mengecupnya lembut. "Jangan marah, ya. Kalau kau benar-benar marah, pukul saja aku biar hatimu lega."
Selesai bicara, Nyonya Honglian berbalik, lalu menelungkup di atas ranjang Bai Cangdong, mengangkat tinggi pinggul bulatnya ke arah Bai Cangdong.
"Pelan-pelan saja, aku takut sakit," katanya manja, menoleh dengan tatapan menggodanya.
"Kau ini perempuan..." entah kenapa, Bai Cangdong merasa emosi membuncah dan tanpa sadar menepuk pinggul Nyonya Honglian dengan keras dan nyaring.
Seketika, Nyonya Honglian melompat seperti kucing liar yang terkejut, cahaya keemasan memancar dari tubuhnya, dan ia menatap Bai Cangdong dengan mata terbelalak.
"Kau benar-benar berani memukulku!" serunya tak percaya.
"Kan Nyonya sendiri yang memintanya," Bai Cangdong tersenyum tipis.
"Kau..." Nyonya Honglian cemberut, berkata penuh amarah, "Sebaiknya dua hari lagi kau sudah membawa Rumput Tiga Bintang padaku. Kalau tidak, urusan hari ini belum selesai!"
Setelah itu, ia keluar dengan wajah masam, membanting pintu saking jengkelnya.
"Sialan Bai Cangdong, dasar lelaki kecil, berani-beraninya menyentuh dan memukul pinggulku. Hutang ini belum lunas," gerutunya dalam kereta, sembari wajahnya memerah. Daerah yang dipukul Bai Cangdong terasa geli dan gatal, membuatnya tak tahan ingin mengelusnya.
Bai Cangdong mengambil peta Tebing Langit Sunyi. Kali ini, ia memang harus pergi ke sana. Meski berbahaya, tebing itu bukan tempat mustahil. Asalkan tidak mendaki terlalu tinggi, resikonya masih bisa dikendalikan.
Bila beruntung, ia bahkan bisa menemukan Rumput Tiga Bintang di kaki gunung tanpa perlu mendaki tebing itu.
Selain itu, latihan 'Sayap Asura' dan 'Delapan Langkah Langit' beberapa hari ini sudah cukup meningkat. Sayap Asura sudah bisa digunakan dengan lancar, Delapan Langkah Langit sudah sampai langkah kelima. Bai Cangdong cukup yakin bisa mengambil Rumput Tiga Bintang di Tebing Langit Sunyi tanpa terlalu berisiko.
"Wilayah berbahaya Tebing Langit Sunyi sebenarnya baru dimulai dari ketinggian tiga ribu meter. Selama aku tidak melewati batas itu, aku yakin bisa melindungi diri. Paling buruk, masih bisa kabur menyelamatkan diri," pikir Bai Cangdong sambil melipat dan menyimpan peta.
Tebing Langit Sunyi adalah puncak tertinggi di sekitar Kota Daolun. Meski berada di tengah pegunungan, namun tak ada puncak lain di sekitarnya. Ia berdiri sendiri di antara gunung-gunung, puncaknya menembus awan, curam seperti sebilah pedang raksasa yang terbalik dari langit, dindingnya tegak lurus sembilan puluh derajat, bahkan di beberapa tempat ada yang sedikit miring ke luar.
Keajaiban Tebing Langit Sunyi bukan hanya terletak pada kemiringannya. Entah mengapa, batu-batu di sana tak bisa dirusak. Senjata apapun yang digunakan untuk melukainya, batu-batu itu akan pulih sendiri seperti semula, sehingga mustahil membuat jalan setapak atau tangga batu, bahkan tali tambang pun tak bisa dipasang.
Untungnya, di dinding tebing tumbuh banyak sulur-sulur tanaman, ada yang setipis rambut, ada juga yang sebesar tong air, menempel di dinding dan merambat sampai ke puncak, menjadi tangga alami untuk mendaki Tebing Langit Sunyi.
Karena banyak bunga dan tanaman langka tumbuh di sana, banyak orang datang untuk mencari obat, namun medan yang berbahaya dan kehadiran undead membuat banyak orang tewas setiap tahun, kebanyakan dari mereka adalah baron, sebagian kecil viscount.
Sedangkan orang biasa yang tak punya gelar, tak mungkin mampu mendaki Tebing Langit Sunyi. Mereka hanya bisa menemukan beberapa tanaman obat di kaki gunung saja.