Bab Tujuh Puluh Delapan: Kandang Sapi Keluarga Du
Tiga puluh li di utara Kota Xianyang, terdapat sebuah gunung yang dikenal dengan nama Gunung Kepala Sapi. Di gunung ini, kawanan banteng liar hidup dengan bebas. Di kaki gunung itu, berdirilah Desa Kandang Sapi. Desa ini secara turun-temurun menggantungkan hidup pada menangkap dan memelihara sapi, menyediakan tak terhitung banyaknya sapi pembajak sawah untuk Xianyang, dan tak diketahui berapa banyak daging sapi liar di meja para bangsawan berasal dari desa ini.
Keluarga Du dari Kandang Sapi adalah satu-satunya keluarga kaya di seluruh desa, sementara seluruh penduduk desa merupakan petani penggarap dari keluarga Du. Konon, keahlian menangkap dan menjinakkan sapi berasal dari keluarga ini.
Suara berbagai alat musik berbaur, namun suara serunai menjadi yang utama. Begitu alat musik ini dimainkan, pasti sedang ada pesta pernikahan atau upacara kematian. Hari itu, suara riang serunai menggema di Desa Kandang Sapi karena hari ini adalah hari pernikahan putra kedua keluarga Du.
Membicarakan keluarga Du, kisahnya panjang. Tak ada yang tahu sudah berapa lama keluarga ini berdiri, ada yang mengatakan keluarga Du merupakan keturunan rakyat Dinasti Yin-Shang yang tersisa. Kepala keluarga yang sekarang, Tuan Tua Du, dikenal sebagai orang sangat baik hati; ia memperlakukan para penggarap dengan baik, dan bila ada orang malang yang melewati desa, ia pasti menjamunya dengan makanan dan minuman, bahkan memberikan bekal ketika berpisah.
Keluarga Du selalu meneruskan garis keturunan secara tunggal, namun di generasi ini, kepala keluarga justru dikaruniai sepasang anak laki-laki kembar. Awalnya, hal itu membuat Tuan Du sangat gembira. Namun seiring waktu, kedua anak itu tumbuh dan tanda-tanda aneh mulai muncul.
Putra sulung, Du Bisu, terlahir sangat cerdas; pada usia tujuh bulan sudah bisa bicara, tiga tahun sudah bisa menulis, tujuh tahun sudah khatam kitab strategi militer. Namun, ia lemah dan sering sakit-sakitan karena penyakit paru-paru, tubuhnya kurus kering. Karena penyakitnya, ia dijauhi warga desa, dan beberapa tahun terakhir ia juga kecanduan berjudi. Seolah-olah ia memang ditakdirkan sial, setiap berjudi pasti kalah. Hal ini semakin membuatnya dianggap pembawa sial di mata orang lain.
Sebaliknya, putra kedua, Du Shushao, lebih disukai banyak orang. Meski agak lamban akalnya, ia terlahir dengan kekuatan luar biasa. Ia bisa berbicara dengan hewan dan memiliki tenaga sembilan banteng dan dua harimau. Ia sering berburu ke gunung dan tak pernah pulang dengan tangan kosong, hasil buruannya selalu dibagikan kepada warga desa, sehingga sangat dicintai oleh mereka.
Walaupun kurang cerdas, di masa Dinasti Qin, kemampuan mengenyangkan perut orang lain sudah dianggap keahlian tersendiri. Aneh memang, Du Shushao tidak takut apa pun, kecuali lebah. Konon, waktu kecil ia pernah buang air kecil ke lubang pohon dan disengat lebah di tempat yang tak seharusnya, sehingga trauma hingga kini.
Di bukit belakang Desa Kandang Sapi,
"Kedua, sudahi mainnya, pulang, waktunya menikah!" seru seorang pemuda kurus, pucat pasi, seolah angin sedikit saja bisa menjatuhkannya. Ia berjalan di jalan setapak di gunung, tampak seperti bisa roboh kapan saja.
Dari kejauhan, tampak seorang pemuda bertubuh tinggi besar, kulit legam, seluruh tubuh berbulu lebat, sedang bercanda dengan seekor harimau belang. Harimau besar bermata tajam itu berbulu putih bersih, tubuhnya kekar seperti banteng, di dahinya terdapat tanda besar menyerupai huruf "Raja". Pola bulunya berbaur hitam dan putih, dengan beberapa bercak putih di dada, perut, dan bagian dalam kaki; bulunya tebal seperti mantel wol yang menyelimuti bahunya. Kaki-kakinya kokoh, cakarnya tajam mencuat keluar, ekornya panjang tebal dengan pola gelang hitam, melengkung seperti cambuk baja, dan kumis panjang menghiasi mulutnya—benar-benar raja segala binatang.
Kedua pemuda itu adalah Du Bisu dan Du Shushao, sepasang kakak beradik.
"Aku nggak mau, Kak. Gimana kalau Kakak aja yang menikah? Kakak juga sudah punya tiga istri, nambah satu kan nggak masalah," jawab Du Shushao dengan suara berat sambil mengelus harimau.
"Ah, memang adikku ini baik, tahu caranya menyayangi kakak," ujar Du Bisu hendak mengiyakan, namun mendadak teringat ayahnya yang biasa mengasah pedang sepanjang empat puluh meter di rumah, ia pun cepat-cepat mengubah jawabannya. "Ngaco kamu. Ayah sudah bilang, asalkan kamu mau menikah, kasih keturunan, nanti urusanmu bebas, mau tiap hari main ke bukit belakang juga boleh!"
"Masalahnya cuma soal keturunan, kenapa harus menikah? Menurutku, si Nona Putih aja cukup," kata Du Shushao sambil mengelus bulu di leher harimau putih itu.
Mengelus leher kucing besar adalah cara terbaik menunjukkan keakraban. Harimau putih itu tampak menikmati, memejamkan mata, lidah besarnya menjilat-jilat tangan Du Shushao yang hitam legam. (Catatan: Kalau ke kebun binatang, kalian boleh coba cara ini—katanya selalu berhasil, tak pernah gagal.)
Nona Putih yang disebut Du Shushao itu adalah harimau putih di depannya, yang dulu ia selamatkan dari beruang liar beberapa tahun lalu. Sejak itu, ia memeliharanya seperti kucing. Namun karena harimau itu makin besar, agar tidak membuat warga desa takut, atas perintah tegas ayahnya, ia harus melepas harimau itu ke bukit belakang. Sejak itu, bukit belakang jadi tempat kesayangan Du Shushao.
"Soal keturunan, Nona Putih nggak bisa bantu kamu," kata Du Bisu kepada adiknya dengan nada putus asa.
"Kakak, kamu juga mau bohongi aku?" mata Du Shushao membelalak marah.
"Kapan aku bohongi kamu?" tanya Du Bisu bingung.
"Aku jelas dengar kakak bilang kakak ipar juga harimau putih, kenapa harimau putihmu bisa punya anak, harimau putihku nggak bisa?" wajah hitam Du Shushao penuh kekesalan.
...
Dengan bujukan panjang lebar Du Bisu, akhirnya Du Shushao yang polos itu paham bahwa harimau putih yang dimaksud berbeda.
"Nona Putih, aku pergi dulu. Kalau sudah punya istri, aku bisa tiap hari ke sini lagi," kata Du Shushao berpamitan pada harimau putih.
Di rumah keluarga Du, Desa Kandang Sapi
"Anak sulung, bagaimana kau bisa membujuk adikmu pulang?" tanya Tuan Tua Du.
"Aku bilang, kalau dia mau menikah, ayah tak akan larang dia main ke bukit belakang lagi," jawab Du Bisu.
"Hmm, memang kau ini cerdas. Tapi kalau nanti tiap hari ke bukit, juga bukan perkara baik," kata ayahnya memuji.
"Tenang saja, Ayah. Istrinya nanti juga harimau putih. Setelah malam ini, dia pasti tahu harimau putih yang ini lebih baik," kata Du Bisu dengan bangga.
Tuan Tua Du merasa kalimat anaknya aneh dan informasi terlalu banyak, pikirannya jadi kacau. Setelah beberapa saat baru ia sadar, tangannya meraba gagang pedang.
"Ayah, biar aku jelaskan, bukan seperti yang Ayah pikirkan."
"Aku tidak, sungguh tidak, mana mungkin aku melakukan hal yang lebih buruk dari binatang," Du Bisu sambil menghindar dari pedang ayahnya.
"Itu kata istriku, mereka memang tumbuh besar bersama sejak kecil," jelas Du Bisu.
"Benar?" Tuan Tua Du menempelkan pedang ke leher anaknya.
"Ayah, sungguh, tolong jauhkan pedangnya," kata Du Bisu dengan kaki gemetar.
Malam pengantin di kamar
"Kak Kedua, coba raba, di sana benar-benar tidak ada lebah," suara perempuan terdengar dari atas ranjang besar yang dikelilingi kelambu merah.
"Hm, kau bohongi aku."
"Aku Du nomor dua bukan orang bodoh."
"Tadi jelas aku meraba madu, berani-beraninya kau bilang tidak ada lebah," suara berat Du Shushao terdengar dari balik tirai.