Bab Sembilan Puluh Tiga: Kelas Bunga Matahari Kecil Dimulai
“Namun, Baginda, bukankah orang-orang ini tetap menjadi ancaman selama mereka masih hidup?” ujar Li Chen.
“Kuharus membuat mereka menerima kekalahan dengan sepenuh hati, bukan begitu?” sang Kaisar membalas dengan pertanyaan.
Bagaimana burung pipit bisa memahami cita-cita angsa yang agung? Di hadapan punggung laki-laki ini, Li Chen merasa dirinya sekecil burung pipit, sedangkan sang Kaisar adalah matahari yang membara. Ia tahu betul bahwa sisa-sisa bangsawan dari enam negara bagaikan ular berbisa yang menyelinap di antara bayang-bayang, namun ia tetap memiliki keyakinan untuk menghadapi mereka. Dan kenyataannya memang begitu: selama sang Kaisar masih hidup, mereka hanya bisa menjadi tikus busuk di bawah tanah.
“Beberapa orang memang ditakdirkan menjadi bayangan bagi orang lain, membersihkan kotoran demi cahaya,” pikir Li Chen saat menatap sosok agung itu.
Keesokan harinya, sang Kaisar kembali memanggil Li Chen menghadap.
“Saudaraku, jika akademi ini merekrut siswa dari sekolah dasar yang masa belajarnya tiga tahun, bukankah selama tiga tahun itu akademi akan kekurangan siswa?” tanya sang Kaisar.
“Tentu saja, kita bisa merekrut siswa yang sudah memiliki dasar pengetahuan dan mengadakan kelas percepatan,” jawab Li Chen dengan lancar, karena memang sudah ia rencanakan sebelumnya.
Waktu berlalu begitu cepat; siang dan malam berganti tanpa terasa. Setiap hari, Li Chen menemani sang Kaisar mengobrol pada siang hari, sementara malamnya ia harus lembur mempersiapkan bahan ajar.
“Aku jadi tuan tanah bukan pengemis, agar hidup lebih mudah. Tapi kini justru aku merindukan hari-hari sebagai pengemis,” pikirnya.
Hidup seperti itu, mau melawan pun percuma, hanya bisa menutup mata dan menikmatinya.
Kota Xianyang, Akademi Kerajaan Da Qin
Hari ini adalah hari pembukaan kelas percepatan di Akademi Kerajaan Da Qin. Sesuai aturan, akademi seharusnya memiliki enam tahun masa pendidikan. Namun Da Qin tidak punya waktu menunggu selama itu; reformasi militer dan pemerintahan sudah mendesak. Da Qin sangat membutuhkan darah muda untuk menjadi pelopor perubahan.
Atas keputusan Li Chen dan sang Kaisar, kelas percepatan selama enam bulan mulai diadakan.
“Aku tahu, di antara kalian ada yang berasal dari keluarga bangsawan, pedagang, dan rakyat biasa. Aku berdiri di sini untuk memberitahu bahwa asal-usul tidaklah penting. Nenek moyangku dulu juga hanya seorang penjaga kuda,” ucap sang Kaisar.
“Mulai hari ini, buanglah perbedaan kasta. Sesama siswa adalah saudara. Kalian semua adalah murid sang Kaisar. Aku berharap, kelak kalian menggunakan ilmu yang didapat di sini untuk memperluas wilayah Da Qin dan melindungi rakyatnya.” Sang Kaisar berdiri di atas podium, sementara di bawahnya ada lebih dari delapan puluh siswa mengenakan jubah hitam seragam.
Di antara mereka, yang tertua berusia tujuh atau delapan tahun, dan yang termuda baru sebelas atau dua belas tahun. Namun semuanya adalah pilihan terbaik, sangat cerdas dan berbakat.
Setelah sang Kaisar memberikan beberapa kata sambutan, giliran Li Chen mengambil alih.
“Mulai hari ini, kelas percepatan dibagi menjadi jurusan teknik dan jurusan militer. Pagi kita belajar teknik, sore belajar militer. Pengajar teknik adalah aku, asisten pengajar adalah Fu Su. Pengajar militer adalah Komandan Negara Wei Liaozi, asisten pengajar adalah Jenderal Wang Jian,” ujar Li Chen kepada para siswa.
Susunan pengajar ini bisa dibilang paling hebat di Da Qin.
“Fu Su, bagikan lencana sekolah,” perintah Li Chen. Fu Su membawa sebuah nampan berisi lencana dada berbentuk bunga matahari yang terbuat dari emas.
“Pasanglah lencana ini di dada kalian,” kata Li Chen kepada para siswa.
“Apakah kalian tahu apa ini?” lanjut Li Chen bertanya.
“Bunga, mungkin?” jawab beberapa siswa.
“Tampaknya bunga yang belum pernah kami lihat,” mereka saling berbisik.
Saat itu memang belum ada bunga matahari di Da Qin. Bunga tersebut masih berada di belahan bumi lain, di Amerika Selatan.
“Bunga ini bernama bunga matahari. Hidupnya sangat kuat; di padang rumput maupun gurun, basah ataupun kering, selama ada cahaya matahari, ia akan bertahan.”
“Ia selalu mencari cahaya, kelopaknya mengikuti arah matahari.”
“Ia merindukan terang, melambangkan kesetiaan.”
“Baginda adalah matahari Da Qin. Aku berharap kalian semua seperti bunga matahari, setia dan selalu mengharapkan cahaya,” kata Li Chen dengan khidmat kepada para siswa.
“Pelajaran pertama kita adalah matematika.”
“Mungkin kalian bertanya, apa itu matematika?”
“Aku katakan, matematika bukan sekadar hal biasa, matematika adalah dasar segala sesuatu.”
“Ilmu yang akan kita pelajari selanjutnya, seperti sains, geografi, kimia, fisika, semuanya butuh matematika.”
“Ingat, jika kalian menguasai matematika dan ilmu pengetahuan, menjelajah Da Qin tidak akan membuat kalian takut,” ujar Li Chen dari podium.
Para siswa duduk tegak, penuh konsentrasi.
“Enam keahlian utama seorang terpelajar: tata krama, musik, memanah, mengendarai, menulis, dan berhitung. Lalu, apa bedanya aritmetika dalam enam keahlian itu dengan matematika yang akan kita pelajari?” tanya seorang siswa yang kira-kira berusia lima belas atau enam belas tahun.
Li Chen mengenal siswa ini, namanya Li Qing, cucu dari Perdana Menteri Li Si.
Matematika Da Qin masih sangat sederhana. Dalam sejarah, era yang cukup maju dalam matematika baru terjadi di Dinasti Han, setelah Zhang Cang menulis “Sembilan Bab Aritmetika”.
“Karena kamu bertanya, aku akan memberikan soal. Kita akan menghitung bersama,” kata Li Chen. Pengalaman langsung adalah cara terbaik untuk membangkitkan minat belajar siswa.
“Kita anggap setiap pedagang kaya di Da Qin harus membayar pajak sebesar lima ratus tujuh belas tael perak. Jika ada tiga ratus tujuh puluh empat pedagang, berapa total pajak yang harus mereka bayarkan?” Li Chen menulis soalnya di papan tulis kelas.
Papan kayu dan kapur itu ia ambil dari ruang bumi, dan kini semua orang sudah terbiasa dengan barang-barang unik miliknya.
“Hmm…”
“Sulit sekali…”
“Baru sekarang tahu, ternyata pekerjaan bendahara tidaklah mudah,” beberapa siswa berbisik.
Setelah sekitar satu jam, Li Chen meminta Fu Su mengumpulkan kertas kerja dari para siswa.
“Swish, swish, swish.”
Li Chen memeriksa proses perhitungan mereka. Benar saja, soal yang sangat sederhana di masa kini, di zaman ini tergolong rumit.
Selama satu jam penuh, sebagian besar menuliskan proses panjang, tetapi belum menemukan jawabannya.
Dari delapan puluh orang lebih di ruangan itu, hanya tiga orang berhasil menjawab. Sisanya masih sibuk menghitung. Tentu, jika diberi waktu lebih lama, mungkin akan ada lebih banyak yang berhasil.
“Eh, siapa ini yang mengumpulkan kertas kosong?” Li Chen sedikit kesal saat melihat kertas putih tanpa tulisan.
“Guru, itu milik Wang Li,” bisik Fu Su di sampingnya.
Wang Li, Ying Yue, dan Meng Fei adalah siswa pendengar. Karena usia mereka terlalu tua, mereka tidak tercantum dalam daftar penerimaan. Sekarang mereka duduk di barisan belakang kelas, mendengarkan dengan serius.
Atau lebih tepatnya, Ying Yue dan Meng Fei lah yang serius mendengarkan, Wang Li malah serius tidur.
“Zzz… zzz…”
“Cemil… cemil…”
Wang Li semakin nyenyak, tidak hanya mendengkur, kadang mulutnya bergerak seolah mengunyah sesuatu.